JOMOC Vol. I
Antologi ini berawal dari usul salah seorang dari kami, menurutnya menarik jika hasil diskusi dan bacaan kami selama ini dibukukan. Lalu entah tersambar oleh petir ilahi macam apa, muncullah nama JOMOC, parodi dari suatu subkultur internet Indonesia, sebagai judul antologinya.
Dimulai dari tulisan Luthfi yang dengan tenang membahas media iyashi-kei atau cozy sebagai bentuk terapi, dilanjut reviu anime Ghost in the Shell oleh Xenoshroomer. Lalu Len, yang adalah pegiat Vocaloid sejak lama, berargumen bahwa Vocaloid bisa nampak “abadi” sebab keberadaannya—hampir seperti apoteosis. (<— melebih-lebihkan). Rheza menunjukkan cacatnya ekologi kawaii di bawah kapitalisme, dan bagaimana Morton menawarkan solusinya. Menhera sekarang ini bukan hanya jadi isu kesehatan mental, tapi juga menjadi isu ideologis adalah kesimpulan dari diskusi kelompok baca kami, yang lalu disunting oleh Xenoshroomer.
Dengan masifnya influks anime isekai sekarang, Nikotile berpendapat bahwa masih ada cara memandang slop itu secara kritis. Setelahnya, diskusi kami disaring kembali oleh KunstFanKitschEnjoyer, ketika kami membicarakan bagaimana diskursus otaku sebagai penyakit sosial. Yakub merangkum beberapa bacaannya untuk berpendapat bahwa lolicon dan fujoshi sebenarnya lebih mirip dari yang kita duga. Terakhir, tesis Immanuel dalam tulisannya bahwa anime bisa dipandang sebagai suatu eskapisme dari dunia neoliberal. Kami harap tulisan ala kadarnya ini membuka bendungan rasa penasaran Anda sekalian.